16 Feb 2011

Pemain Biola Yang Unik dari LHOKSEUMAWE


LHOKSEUMAWE - Muhammad Thaib Badai, 60, tetapi lebih dikenal Syeh Thaib. Dia lahir dan hidup di kampung Paloh Dayah, Muara Satu, Lhokseumawe yang baru-baru ini menjadi kawasan budaya.


Syeh Thaib merupakan salah satu seniman biola sisa peninggalan dari kearifan lokal di wilayah itu. Berseni dengan menggunakan alat musik modern di kampung menjadikannya manusia unik dan langka.

Lelaki itu tak pernah menggelar konser di kota atau di mana pun sebagaimana biolis terkemuka. Dia lebih sering bermain musik di balai papan rumahnya yang menghadap sawah dan bukit dikelilingi pohon pisang. Setiap kali dia bermain anak-anak jiran berkerumun menikmati musik seraya memperhatikan kepiawaian gerakan tangannya.

Syeh Thaib, tadi sore mengisahkan, kecintaannya pada biola muncul sejak lama. Sebelum meletus perang DI/TII. Perang yang berakhir tidak jelas itu sudah mengacaukan hasratnya jadi pemain biola terkenal sebagaimana dicita-citakan.

Waktu itu dia sedang mengikuti rombongan Syeh Biola yang terkenal, yang nama sebetulnya Syeh Kade. Tatkala itu dia masih sebagai pemain pembantu lantaran permainan biola zaman itu berbentuk semacam opera. "Salah seorang tokoh perempuan diperankan oleh lelaki," jelasnya.

Syeh Thaib telah berkunjung ke berbagai kampung sebagai pemeran dalam suatu pertunjukan. Dalam pertunjukan itu dia tidak sebagai pemain biola, tapi dia sudah mulai menguasai alat musik itu.

Lama selepas perang DI/TII, permainan biola keliling kampung pun lenyap. Sampai puluhan tahun, dia tidak bermain biola. Baru sekitar tahun 2000, dia membuat biola sendiri sebagai hiburannya di antara kegiatannya bertani. Begitulah sampai berbilang tahun kemudian.

Adapun mula dia menekuni bidang itu, dipicu kedatangan seorang pemuda yang tertarik pada permainan biolanya. Pemuda itu membelikannya biola seharga Rp1,2 juta yang tergolong mahal waktu itu. Kini dengan biola itulah dia sudah beberapa kali keliling kampung se Aceh Utara, menunjukkan kebolehannya.

Baru-baru ini Badan Dakwah Islam (BDI) PT Arun memberinya seperangkat alat pengeras suara, sehingga bila dia keliling kampung di bagian barat selatan Aceh Utara dan tempat lain, maka penampilan permainan biolanya akan lebih terdengar nyaring dan lantang ke seluruh penjuru.

Setiap kali Syeh Thaib tampil, baik di kaki lima pertokoan ataupun di kedai kampung, dia mendapat hadiah uang oleh orang yang senang mendengarnya. "Selain di emperan toko Lhokseumawe, saya pernah memainkan biola di selatan Aceh Utara, Cot Kiroe, Krueng Mane," ucapnya mengenang.

Syeh Thaib sebenarnya berkeinginan membuat pagelaran biola seperti masa sebelum perang, yakni ada orang peraga kisah yang dinyanyikan, juga ada pelakon lawaknya. Namun kini pemerintah melarang kegiatan serupa lantaran tokoh perempuan diperankan oleh lelaki yang disolek seperti perempuan, tak dibolehkan. Pemerintah mengizinkan bila tokoh perempuan dimainkan langsung oleh perempuan.

Sumber: waspada.co.id

Semoga Bermanfaat!!!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

flag counter