23 Feb 2011

Sedikit Sejarah Tentang Not Balok

Apakah sobat-sobat suka mendengarkan musik? Lalu, jenis musik apa yang sobat-so-bat suka? Apa pun jenis musik yang sobat-sobat suka, yang penting bisa menghibur kita. Musik itu ajaib! Bisa membuat kita menanqis, tertawa, atau bahkan kedua-duanya pada saat yang bersamaan. Musik tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia.
Menurut pcndapat J. Lull, psikologi musik asal Inggris, pada umumnya setiap manusia mempunyai perasaan musikal. Saat lahir ke dunia, bayi sudah dianugerahi kepekaan terhadap musik. Bahkan, penelitian terakhir menyatakan, bayi yang masih berada dalam kandungan pun akan ikut mendengarkan musik yang didengarkan oleh ibunya, lho...

Menunut penelitian yang dilakukan oleh Julius Portnoy. seorang pakar di
bidang musik, ternyata musik dapat mengubah laju metabolisms tubuh, me- ningkatkan atau menurunkan tekanan darah, dan memengaruhi tingkat energi tubuh. Makanya kita sering merasa ikut terhanyut saat mendengarkan musik. Musik yang tenang, benar-benar membawa efek menenangkan bagi tubuh karena merangsang terbentuknya hormon endorfin. Hormon endorfin adalah hormon yang bekerja bertentangan dengan hormon andrenalin. Kalau tubuh Kita banyak menqhasilkan hormon
endorfin, otomatis kita akan jadi lebih rileks, bahkan cenderung mengantuk. Apalagi kalau kita mendengarKan musik klasik...
Selain itu, menurut penelitian dari Universitas California Irvine di AS, musik memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap otaK bagian tertentu. Nada-nada suara yang dihasilkan oleh musik akan mengaKtifkan sejumlah titik tertentu pada sistem saraf manusia yang berhubungan langsung dengan pusat -pusat motivasi. Jadi, sejumlah jenis musik tertentu akan membangkitkan motivasi atau semangat pada orang yang mendengarkannya. Nggak heran kalau kita mendengar lagu-lagu yang iramanya seru, kita juga jadi semangat, minimal kita jadi pengen gerak.
Selain mendengarkan musik, di antara sobat-sobat pasti ada juga yang hobi bermain musik, bukan? Musik itu identik dengan not-not balok. Notasi balok atau susunan nada yang ditulis dalam paranada, dan dibagi dalam be- berapa birama, memang hal yang wajib dalam pelajaran musik. Dalam membu- nyikan instrumen musik atau bernyanyi, not baloklah yang menjadi panduannya.
O iya, sobat-sobat... Yang dimaksud dengan paranada adalah lima garis horizontal panjang. Sedangkan yang dimaksud dengan birama adalah garis vertikal.
Dulu, seorang musisi bernama Guido d'Arezo (995-1055). menqgunakan "
sistem 6 not atau hexa"chora di Eropa untuk mengetes tingginya nada suara
penyanyi di zaman itu. Sistem Ut - Re -Mi Fa - Sol - La, ini masih dipakai sampai ratusan tahun kemudian. Karena hanya terdiri atas 6 nada, terjadi penumpukan hexachord untuk menutupi seluruf oktaf.
Susunan yang disebut dengan continental six-note Ut - Re - Mi ini kemudian dibuat lebih sederhana di Inggris menjadi four-note system atau sistem 4 not Potongannya dan susunan not di atas, tetapi hanya bagian dari C ke C saja, yaitu: Fa - Sol - La - Fa - Sol - La - Mi - Fa. Sistem not inilah yang dibawa oleh koloni Inqgris saat berlayar mencari negara jajanan baru dan menjadi pelajaran dasar para penyanyi legendaris di Inggris.
Solmisasi dalam bentuk inisial untuk memudahkan membaca tiap suku kata U-R-M-F-S-L, pertama kali ditulis oleh John Windet dengan 46 not dan di cetak di Ingqris pada tahun 1562 untuk komposisi "The Sternhold & Hopkins Psalter". Seabad kemudian, pada tahun 1698 di Boston juqa dicetak edisi ke-9 dari "Bay Psalme Book" yang sebelumnya hanya berupa teks dengan sistem 4 not dan inisial untuk setiap nada. Karya ini diakui sebagai buku musik pertama yang dicetak di dunia. Pada saat itu, not bentuk wajik menjadi standar not musik.
Pada awal tahun 1700-an, munculah satu inovasi baru lagi dalam penulisan not musik. Akan tetapi, dengan inisial 4 huruf yaitu M-F-S-L di dalam pa- ranada dan dibatasi oleh birama, namun tanpa adanya not berbentuk wajik. Pan jang pendeknya not ditentukan oleh titiK yang ada di sebelah not tersebut. Setiap satu titik berarti 2x panjang atau ketukan not tersebut. Lalu kemudian... munculah buku pertama yang dicetak dengan bermacam-macam bentuk not, judul buku tersebut adalah Easy Instructor yang ditulis oleh William Little dan William Smith pada tahun 1801. Segitiga untuk Fa, elips untuk Sol, bujur sangkar untuk La dan belah ketupat untUK Mi. Pada tahun 1803, terbit pulalah buku The Musical Primer, yang ditulis oleh Andrew Law dengan menggunakan not balok yang sama, tetapi tanpa paranada seperti yang sudah dikenal sebelumnya.
Dalam perkembanqannya, sistem Fa -sol - La tersebut dilengkapi hingga 8 nada (C - C) dan dipakai untuk melagukan nada, baik untuk bernyanyi maupun bermain alat musik. Bentuknya pun menjadi umum, bulat cenderung elips. Nada ditentukan oleh posisinya pada paranada. Sementara itu, tradisi Fa -Sol - La yang lama masih digunakan di beberapa tempat tertentu sampai sekarang, khususnya untuk menyanyikan himne, gospel (nyanyian pujian di gereja), atau nyanyian yang dilagukan tanpa alat musik, atau biasa yang kita kenal dengan acapella, Nah, sobat-sobat..., kita belajar not balok yuuk...!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

flag counter